
Kebakaran yang membuat sejumlah rumah ludes dan kisah mengharukan kakek nenek yang selamat dari kepungan api.
Karsinah merasa beruntung bisa selamat dari kebakaran hebat yang menimpa kampungnya di RT05/09 Kelurahan Palmeriam, Jakarta Timur, Kamis (06/10/2016) dini hari. (seperti dikutip dari wartakota)
Dihantui perasaan takut luar biasa, nenek berusia 76 tahun itu akhirnya selamat dari maut karena sang suami rela berkorban untuknya dengan menyelamatkan dia dari kobaran api.
Pukul 00.30, tidak biasanya Karsinah terdorong untuk menyelesaikan pekerjaannya, mencuci baju milik para pelanggannya, di rumah bedengnya yang berbatasan langsung dengan tebing anak Kali Ciliwung.
Tak lama, terdengar teriakan-teriakan dari seberang kali, yang tak lain adalah kawasan lokalisasi pinggir rel Gunung Antang. Dari jarak sekitar 30 meter, Karsinah melihat ada kebakaran di seberang sana.
Beberapa warga yang terbangun menyaksikan peristiwa kebakaran itu. Nenek Karsinah, memutuskan masuk ke dalam rumah untuk memberesi cucian dan membangunkan suaminya, Pendi (70). Tetapi, setelah ke luar kembali, ia sudah mendapati api mulai menyasar perkampungannya.
"Tidak tahu bagaimana kok bisa sampai ke kampung saya. Apinya nyebrang kali terbawa angin," kisah Karsinah kepada Warta Kota ditemui di lokasi pengungsian, Kamis (06/10) siang.
Rumah Karsinah dan warga lain umumnya hanya terbuat dari papan dan triplek. Itu yang menyebabkan api lekas menyebar ke bedeng-bedeng tempat tinggal di sana. Nenek Karsinah dan suaminya bingung.
"Saya niatnya mau ambil barang-barang saya di dalam rumah, tapi suami saya bilang 'sudah terlambat'."
Suami-istri itu pun memutuskan untuk lari menyelamatkan diri. Kakek Pendi, berupaya menuntun istrinya yang memang sudah kesulitan berjalan. Apalagi, mereka harus berebut jalan dengan warga lain melewati jalan selebar sekitar satu meter.
Dalam percobaan menyelamatkan diri, pasangan itu sempat terhadang kobaran api. Pendi mengajak sang istri mengambil satu jalan lain keluar dari perkampungan, namun api sudah berkobar di mana-mana.
"Ada satu jalan lain sebenarnya, menuruni tangga curam menyeberangi pintu air kali. Tapi istri saya sudah sulit menuruni tangga itu," Pendi menambahkan.
Api makin besar
Pendi mencoba tidak panik meskipun situasi sudah makin sulit. Di sekitarnya, api berkobar-kobar. Di saat warga lain sudah berhasil menyelamatkan diri, Pendi yang sebenarnya juga kondisinya mulai melemah karena faktor usia, masih mencoba melindungi sang istri. Tak jarang, ia memasang badannya agar sang istri tak kepanasan terdampak kobaran api.
"Di dalam kampung sudah gelap. Asapnya sangat tebal. Upaya kami menyelamatkan diri selalu dihadap api," kata Pendi.
"Saat itu suasana sudah kalang kabut. Saya tetap menjagai istri saya, apapun yang terjadi."
Melalui perjuangan berat, pasangan itu selamat dari maut. Keduanya ambruk akibat kelelahan, namun di tempat yang aman.
"Tidak ada yang bisa diselamatkan. Baju yang saya pakai ini juga dikasih orang karena baju saya semalam kotor," kata Karsinah.
Karsinah dan Pendi sudah hidup berdua di bantaran kali itu sejak puluhan tahun silam. Karsinah bekerja sebagai buruh cuci sedangkan Pendi buruh serabutan.
240 Jiwa Mengungsi
Kebakaran berhasil dihentikan pukul 02.30, setelah 25 mobil damkar Jakarta Timur diturunkan.
Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran yang bermula dari bedeng milik Yati, di kawasan lokalisasi Gunung Antang.
Akibat kebarakan, puluhan bedeng di Gunung Antang dan 30 bedeng di RT05 rata dengan tanah. Sejak Kamis pagi, warga hanya bisa mengumpulkan puing-puing rumahnya.
Warga tidak tahu apakah mereka akan kembali mendirikan bangunan di rumah itu atau menerima tawaran Pemkot Jakarta Timur untuk pindah ke rumah susun.
Saat ini, 240 jiwa terdampak kebakaran mengungsi di Asrama Gunung Jati.
Bantuan seperti makanan, obat-obatan, selimut dan pakaian berdatangan. Sudin Sosial Jakarta Timur juga membangun dapur umum di dekat posko pengungsian. (pr/wartakota)
loading...